Rabu, 14 November 2012

The Phantom Of The opera (sinopsis)


Phantom Of The opera
Cerita berawal dari dua orang gadis muda yang mengejar impian mereka untuk menjadi penyanyi panggung opera di kota New York. Salah satunya bernama Christine.
 Ia berencana mengikuti casting yang diadakan sebuah gedung opera di New York.
 Dia ingin sekali mendapatkan peran. Walaupun hanya peran kecil dalam opera berjudul The Swan. Dengan bantuan temannya yang bernama Meg, Christine mulai mencari-cari materi yang sempurna untuk dinyanyikannya saat casting nanti. Christine berharap dapat menemukan partitur yang bagus untuk dinyanyikan, merekapun mencari partitur kuno di sebuah perpustakaan. Akhirnya mereka berhasil menemukannya. Mereka menemukan sebuah naskah partitur kuno berjudul Don Juan Triumphant.

Christine langsung berlatih saat itu juga menyanyikan lagu Don Juan Triumphant. Tapi tiba-tiba saja Not Balok - not balok pada kertas partitur kuno itu mengeluarkan darah hingga membanjiri telapak tangan Christine. Iapun menjerit ketakutan hingga temannya menghampirinya dan bertanya ada apa dengannya? Namun saat itu tangan Christine dan kertas partitur itu telah bersih dari darah tadi. Aneh, temannya mencoba menenangkan Christine.

Akhirnya, Christine tiba ditempat casting. Ketika giliran Christine tiba, Ia menyanyikan lagu yang ia temukan diperpustakaan waktu itu, lagu Don Juan Triumphant. Juri sangat terpesona dengan penampilannya. Namun tiba-tiba saja sebuah lampu panggung jatuh tepat di atas kepalanya. Christine terjengkal dan langsung jatuh pingsan.
Ketika Christine tersadar, tiba-tiba ia sudah berada di tempat lain. ia berada di sebuah gedung opera di inggris, Gedung Opera London yang sangat terkenal dimana pada saat itu latihan opera sedang berlangsung.
Dia mendapat sebuah peran kecil dalam latihan itu. Kebetulan saat latihan itu berlangsung, Christine juga mengalami kejadian yang sama dengan kejadian sebelumnya yaitu tertimpa lampu. Di moment ini, Christine jatuh pingsan karena tertimpa sebuah karung yang terjatuh dari langit-langit panggung. Christine seperti berada di dua waktu pada waktu bersamaan.
Seorang bernama Joseph Buquet, kru yang bertugas mengangkat layar mengatakan bahwa ia melihat hantu menjatuhkan karung itu ke panggung.
Tapi Joseph harus membayar mahal atas perkataannya itu. Karena meski orang-orang ditempat itu tidak ada yang percaya bahwa ada hantu, pada kenyataannya justru hantu itulah yang membunuh Joseph dan mengulitinya.
Hantu itu mendatangi kamar Christine. Ia menyadari keberadaan hantu itu, namun ia mengira kalau hantu itu adalah malaikat yang dikirim Ayahnya untuk mengajarinya bernyanyi. Karena di masa hidupnya, Ayahnyalah yang mengajarinya bernyanyi. Dan hantu itu memang mengajarinya bernyanyi. Tapi hantu itu tidak mengajari Christine menyanyikan lagu yang harusnya ia bawakan untuk pementasan nanti, melainkan lagu pemeran utamalah yang hantu itu ajarkan pada Christine. Lagu Marquerite yang sebenarnya diperankan oleh Carlotta. Hantu itu berjanji dan meyakinkan Christine bahwa ia akan membuat peran utama menjadi peran Christine, bahwa Christine akan menggantikan Carlotta menjadi pemeran utama.


Carlotta adalah Diva terkenal di dunia opera. Namun sayangnya ia bersifat jelek, ia sombong dan jahat. Carlotta mengetahui kemampuan Christine yang sangat bagus, sehingga ia menganggap Christine adalah saingannya. Carlotta ingin sekali menyingkirkan Christine, hingga ia memaksa pemilik gedung Opera untuk mengusir Christine. Jika tidak, ia tidak ingin lagi menyanyi di gedung Opera tersebut.
Tapi semua tidak berjalan sesuai rencana Carlotta. Hantu itu memberikan pelajaran yang sangat mengerikan bagi Carlotta. Hantu itu menggantung mayat Joseph di dalam lemari pakaian Carlotta. Ketika melihatnya, ia menjerit-jerit ketakutan sampai suaranya habis dan tak bisa bernyanyi lagi untuk pertunjukan Opera tersebut.
Christinepun terpilih menjadi penggantinya. Tak diduga, penonton sangat suka dengan penampilannya. Meski Christine terbilang baru dan belum seahli Carlotta yang sudah sangat lama menjadi penyanyi Opera.
Tak disangka, kisah opera yang dibawakan Christine ternyata menggambarkan kisah si hantu dalam masa hidupnya. Dia adalah seorang penggubah lagu yang berbakat dan sangat ingin karya-karyanya menjadi terkenal di dunia seperti karya-karya Mozart dan Beethoven. Untuk itu ia rela melakukan apa saja, hingga ia menjual jiwanya kepada setan yang berjanji akan membuat si hantu terkenal.
Namun setan ini berbuat yang tidak disangka oleh si hantu. Setan merusak wajah si hantu sehingga ia menjadi sangat buruk rupa. Sambil merusak wajah si hantu, setan berkata "Dunia memang akan meyukai dan mengingat lagumu. Tapi hanya itu saja yang akan mereka sukai darimu".


Christine yang berhasil memukau penonton pada pertunjukan malam itu, langsung terkenal dan menjadi buah bibir pada saat itu. Wajah dan namanya selalu muncul di koran-koran, semua koran selalu membicarakan keberhasilan Christine pada pertunjukan opera itu. Namun kegembiraannya surut ketika ia membaca sebuah berita di koran lokal yang memuat artikel tentang seorang kritikus yang mengatakan bahwa penampilan Christine sangat buruk waktu itu dan tidak pantas dibandingkan dengan Carlotta yang sudah menjadi Diva.


Si hantu yang mengetahui hal ini langsung bertindak dan membunuh si kritikus karena telah menyakiti hati gadis pujaannya.
Kemudian si hantu mendatangi Christine dan menghibur hatinya. Dia menjanjikan pada gadis itu, bahwa ia bisa membuatnya sangat terkenal dan disukai banyak orang. Dan tidak akan ada yang berani mengkritiknya. Dalam kesedihannya Christine setuju. Dan mengikuti si hantu pulang ke tempat tinggalnya.
Ternyata dia tinggal di saluran got tepat di bawah Gedung Opera London.
Saat itulah Christine menyadari, kalau si hantu ternyata adalah Eric Destler.
Dan disitu pula hantu Eric memaksa Christine menerima lamarannya dan menyelipkan cicin di jari manisnya.


Christine tidak bisa menolak dan tidak bisa melepaskan cincin itu dari jarinya.
Kemudian serombongan orang yang dipimpin oleh seorang polisi mencari keberadaan Christine.
Seorang gelandangan yang juga tinggal di got di bawah Gedung Opera London membantu menunjukkan jalan kepada mereka.
Karena ia pernah melihat hantu Eric membawa Christine masuk ke got itu. Eric yang mengetahui kejadian ini kemudian
membunuh semua orang yang terlibat dalam pencarian itu. Namun, Richard kekasih Christine dan Inspektur Hawkins si kepala polisi itu, masih hidup dan berhasil menemukan tempat tinggal Eric.
Dengan marah, Eric juga membunuh mereka berdua di depan mata Christine. Gadis itu sangat marah, lalu menyambar lilin yang menyala dan melemparkannya ke tumpukan kertas karya terbaru Eric Destler yang masih belum selesai.


Eric menjerit, karena karya-karya itu adalah jiwanya. Tanpa karyanya ia akan mati. Tapi karena api begitu cepat menyambar,
kumpulan kertas itu pun terbakar dengan cepat dan hantu Eric pun musnah. Pada saat itu, Christine pun pingsan.


Ketika tersadar, Christine telah kembali ke casting opera yang dilakukannya di New York.
Semua orang tengah mengerubunginya ketika ia pingsan terhantam lampu panggung. Saat itulah dia kemudian bertemu dengan Foster, pemilik gedung opera itu, yang wajahnya sangat mirip dengan Eric Destler. Dan Foster memang arwah Eric yang hidup kembali, karena Christine menyanyikan partitur lagu ciptaannya, Don Juan Triumphant.
Partitur yang berubah menjadi darah itulah yang membuktikan kebangkitan awal dari Eric.
Dan kini ia masih tetap mengincar Christine. Tapi kali ini, Christine tidak mau lagi terbujuk dengan janji Eric akan ketenaran dan keberhasilan di dunia opera.
Dia sudah mengalami hal itu di dalam mimpinya, dan ia tidak ingin itu terulang lagi. Maka kali ini, Christine menikam jantung Eric tanpa belas kasih. Lalu melarikan karya-karyanya yang masih belum selesai, merobeknya dan membuangnya ke selokan. Termasuk juga partitur asli dari Don Juan Triumphant. Karena setiap kali ada yang menyanyikan partitur lagu itu, maka Eric Destler akan kembali hidup.
Karena setan sudah menjadikan karyanya itu sebagai jiwanya.


Selesai.

 

Minggu, 07 Oktober 2012

Mutiara persahabatan


Suara sirine mobil polisi meraung raung memecah kesunyian pagi,membawa Osi dan Ramli menuju ke rumah sakit terdekat. Ramli bersandar ke lengan Osi,badannya lemas karena banyak mengeluarkan darah. Wajahnya pucat,tetapi bibirnya tersenyum memandangi wajah anak muda yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya itu.
“Os,jangan lupa kau serahkan barang-barang bukti yang sempat kita bawa itu kepada polisi. Hati-hati,jangan sampai sidik jarimu merusak sidik jari yang ada pada gelas.”
“Beres,jangan khawatir. Semua akan aku serahkan” jawab Osi.
“Dan nanti,tolong sampaikan berita ini kepada keluargaku ya? Tapi katakan bahwa aku baik baik saja,agar tidak mengejutkan ibuku. Ibu biasanya mudah sekali menjadi kaget. Aku tidak ingin ibuku menjadi amat khawatir karenaku.” Pinta ramli.
“Siap,kapten. Semua akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya,” jawab Osi menggoda temannya seraya menghormat dengan tangannya.
Ramli memukul Osi dengan tinjunya sambil tersenyum,tetapi ia segera mengaduh kesakitan karena luka di lengannya membuat tangannya terasa sakit bila digerakkan.
“Oh ya, Os mana sepedamu?” tanya Ramli setelah teringat bahwa mereka datang ke kebun dengan sepeda.
“Jangan khawatir,Pak Polisi yang baik itu telah mengurusnya untuk kita.” Jawab Osi.
Setelah beberapa saat lamanya dalam perjalanan,mereka pun tiba di depan sebuah rumah sakit. Kereta dorong telah menjemput mereka di depan pintu mobil polisi yang membawa mereka dengan dua orang perawat. Osi membantu Ramli keluar dari mobil. Dua orang perawat itu segera menerima Ramli dan mengangkatnya ke atas kereta dorong. Dan sesaat kemudian kereta itu pun telah di dorong masuk ke rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan awal beberapa saat lamanya di ruang gawat darurat,Ramli segera ditempatkan di salah satu kamar sambil menunggu proses pembedahan guna mengeluarkan peluru yang masih bersarang dilengannya.
Dua orang polisi membantu menyelesaikan proses administrasi di rumah sakit. Setelah menanyakan alamat keduanya,kedua polisi tersebut bermaksud menyampaikan berita itu kepada orangatua anak itu.
“Saya ikut, Pak. Biarlah saya menyampaikan berita ini langsung kepada orangtua Ramli agar mereka tidak terlalu khawatir akan keadaan anaknya. Lagi pula saya sendiri ingin menemui orangtua saya sebentar,sekedar menyampaikan keselamatan saya. Setelah itu saya akan segera kembali ke sini.” Pinta Osi.
“Baiklah kalau begitu. Nanti pukul 09.00 mohon adik datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangannya.” Jawab polisi itu.
“Baik, pak.”
****
Osi memohon kepada polisi yang mengantarnya agar menuju rumah Ramli terlebih dahulu. Ia ingin menyampaikan keadaan Ramli kepada kedua orangtuanya. Bagaimanapun keadaannya,setidaknya agar kedua orangtua Ramli dapat segera melihat anaknya di rumah sakit.
“Mungkin Paman akan dimintai persetujuan pembedahan untuk mengeluarkan peluru dari lengan Ramli. Tapi menurut dokter mungkin hanya operasi ringan saja. Tidak ada hal yang dapat membahayakan keselaatannnya. Tetapi bagaimanapun harus dirongsen dulu, untuk memsatikan bahwa tidak ada keretakan pada tulang lengannya,namun saya harab mudah-mudahan hal itu tidak terjadi.” Kata Osi kepada ayah Ramli.
“Jadi sekarang Ramli ada di rumah sakit,Nak Os?” tanya ibu Ramli.
“Benar, Bi. tetapi saya tadi mendapat titipan pesan dari Ramli agar Bibi tidak terlalu mengkhawatirkannya. Apalagi saat ini Ramli sedang berada dalam perawatan dokter.” Jawab Osi.
Ibu Ramli enjadi sedikit lega mendengar penjelasan Osi,tetapi bagaimanapun ia menjadi amat sedih mengdengar bencana yang menimpa anaknya.
Saat itu juga keluarga Ramli segera menuju ke rumah sakit agar dapat segera melihat sendiri keadaan anaknya. Sementara itu Osi melanjutkan perjalanannya bersama kedua polisi yang mengatarnya menuju ke rumahnya.
Kedatangan Osi disambut dengan amat gembira oleh kedua orangtuanya. Mereka merasa sangat bersyukur bahwa anaknya telah pulang dalam keadaan selamat. Meskipun semula mereka menjadi sangat khawatir karena kedatangannya diantar dengan mobil polisi, tetapi setelah mendengar penjelasan Osi serta polisi yang telah mengantarnya,kedua orangtua Osi pun menjadi amat lega.
Selain orangtua serta keluarga Osi yang lain,ternyata di situ juga telah banyak para tetangga yang berdatangan. Mereka ingin mendengar apa yang telah terjadi sehingga Osi dan Ramli tidak pulang semalaman,membuat warga desa beramai-ramai mencari mereka di seluruh sudut desa.
“Pantas saja mereka tidak dapat kita temukan. Ternyata mereka telah disekap oleh dua orang penjahat di kebun itu.” Kata salah seorang warga desa yang semalam telah ikut mencari mereka sambil membawa obor.
“Selama ini kita memang tidak pernah menaruh perhatian pada kebun itu. Selain karena tempatnya terpencil di ujung desa ini, peiliknya juga tidak pernah bergaul akrab dengan warga desa yang lainnya.” Timpal salah seorang di antara mereka pula.
“Ya, mungkin itulah sebabnya mereka salalu menutup diri dari pergaulan dengan warga desa kita ini. Ternyata kebun itu telah menyimpan suatu rahasia.”
Cerita mengenai penyekapan dua anak muda dari desa Sumbersari oleh dua orang penjahat di kebun ganja itu segera menyebar hampir ke seluruh pelosok desa. Dari mulut ke mulut, mereka saling bercerita bahwa kedua anak muda yang semalam mereka cari itu ternyata telah disekap oleh dua orang yang menanam ganja di kebunnya.
Cerita itu pun telah sampai pula ke SMP Sumbersari tempat Osi dan Ramli bersekolah. Mereka menjadi amat terkejut mendengar berita itu. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di desa mereka telah terdapat sebuah kebun yang dipenuhi oleh tanaman ganja.
“Mungkin kita juga pernah melihatnya,tetapi kita tidak tahu bahwa tanaman sejenis itulah yang disebut tanaman ganja.” Kata salah seorang di antara teman-teman Osi dan Ramli di sekolah.
“Hii...ngeri sekali! Untunglah Osi telah mengenali dan menemukan kebun dengan tanaman ganja itu,sehingga dapat segera ditangani oleh yang berwajib.” Sahut yang lain.
“Bukan Osi yang menemukan,melainkan Ramli.” Sela yang lain.
“Yah.. siapapun penemunya, tidak perlu kita perdebatkan. Yang jelas mereka berdua telah berjasa bagi kita semua,khususnya para generasi muda seperti kita ini. Andai saja kebun itu tak pernah ditemukan,entah berapa anak muda yang akan menjadi korban.” Kata yang lain pula.
“Kalau begitu sepantasnya mereka disebut sebagai pahlawan.” Sahut salah seorang di antara mereka.
“Huuu... memangnya mereka pernah berperang melawan penjajah?” sangkal salah seorang di antara mereka.
“Hey... kau tolol!! Kau pikir yang disebut sebagai pahlawan itu hanya mereka yang pernah berperang melawan penjajah saja? Siapa pun yang telah berjasa menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran,dapat pula disebut sebagai pahlawan,tahu?”
“Yah.. apa pun sebutannya,yang jelas kita memang harus berterima kasih kepada mereka telah menyelamatkan sebagian generasi muda kita dari korban kecanduan ganja.” Jawab yang lain untuk menghindari perdebatan di antara mereka.

Kamis, 20 September 2012

Sang Seniman


Tak banyak yang bisa dibanggakan menjadi redaktur sebuah majalah sekola. Kacuali dikejar kejar deadline,disela sela kesibukan belajar. Juga tak sebagaiman seorang reporter yang harus bangga bisa mewawancarai narasumber terkenal. Karena biasanya sumber yang dikejardi sekitar sekolah. Jarang menulis laporan dengan narasumber yang bisa dibanggakan. “tapi dari situ,kamu banyak belajar bergaul. Kamu nggak kuper.” Kata Dito. Kakaknya yang mantan pengelola majalah disekolah.
“Iya sih,”sahut Dina.
“Nah, jadi tidak perlu ngeluh.”
Dina jadi tersenyum sendiri. Mungkin ia ikut ketularan kakaknya yang sekarang sudah kuliah di sos-pol. Ia melihat betapa asyiknya Dito dulu suka menulis dan sesekali bertemu dengan narasumber di luar sekolah. Orang orang cukup terkenal dan pintar pintar. Ah, itulah bedanya sekolah Dito dulu dengan sekolah Dina sekarang. Disekolahnya,tak banyak kesempatan untuk mengembangkan majalah. Selain dana terbatas pengelolanya juga tak terlalu peduli. Asal terbit dan tepat waktu saja sudah bagus.
Sebulan menjelang ulang tahun majalah sekolah,Dina mengusulkan beberapa liputan. Semua usulnya disetujui,termasuk unruk mewawancarai senior-senior atau mantan pengelola majalah.
“Idemu boleh juga. Kamu kejar mantan pengelola majalah sekolahmu dan mintai pendapatnya.” Komentar Dito ketika Dina minta masukan. “Ok bos!”
Dina benar benar bekerja keras. Bahkan ia menenteng sendiri kamera,untuk memotretnya. Semua data dan lokasi calon narasumbernya sudah diperoleh dari kantor TU. “Mau reuni Din?” kata Pak TU. Dina hanya tersenyum. Kerja kerasnya cukup memuaskan. Ia mendapat banyak masukan dari mantan seniornya.
“Kamu harus menemui Dandan. Dia pengelola majalah sekolah yang paling elit.” Usul Egy yang kuliah di psikologi. Usulan itu sama seperti yang lain. Itu yang membuat Dina mengorek ngorek dokumentasi majalah sekolah empat tahun lalu. Di situlah ia menemukan tulisan tulisan Dandan. Ia harus mengakui laporannya lengkap. Bahasanya bagus dan indah.
“Ia memang seorang pengarang.” Gumamnya ketika tanpa sengaja menemukan tulisan seniornya itu disebuah majalah wanita. “Kamu mau mewawancaraiku?” tanya Dandan ketika dihubungi lewat telepon. “Ya seperti yang aku jelaskan tadi.” Jawab Dina.
“Salah ah.”
“Salahnya?”
“Tidak benar.”
“Tidak benarnya?”
“hmmm...masih banyak yang lain kan?”
“Sudah.”
“Kalau sudah cukup, ya sudah.”
“Tinggal kakak seorang.” Lengang Dina mendengar desah gelisah orang yang ditelepon. “Kalau tanpa aku,kan nggak apa apa.” Ia masih menawar.
“Justru kuncinya di kak Dandan. Kak Egy,kak Rony,Kak Mayang. Semuanya mengusulkan agar aku menghubungi kakak.”
“Ah,mereka..”
“Ya,semua orang yang mengenal kak Dandan menyarankan aku untuk menghubungi kakak.” Kegigihan Dina membuahkan hasil juga.
“Kita ketemu disekolah saja. Di kantin.”
Di hari yang dijanjikan, Dina datang lebih awal. Guru pelajarannya sedang tidak ada. Melihat Dina, Bi Kus penjaga kantin. Mengerutkan kening.
“Mau ketemu Dandan,” jelasnya menebak kebingungan itu.
“Dandan...Dandan yang mana Din?” tanyanya.
“Yang katanya dulu rambutnya paling gondrong.”
“oh.”
“Bi Kus ingat?”
Wanita berleher hampir rata dengan dagu itu tertawa. Dan matanya semakin menyipit.
“Siapa sih yang nggak kenal si seniman itu. Dialah satu-satunya anak yang berani ngutang banya ke bibi. Tapi bibi juga percaya.”
“Ha!”
“Habis bagaimana? Anaknya memang begitu. Suka cuek. Tapi kalau ada baru terma honor ia bayar utang,dan sisanya untuk makan temen-temen. Sampai habis. Dan esoknya ya ngutang lagi.”
Dina makin menyimak siapa Dandan itu. Lewat Bi Kus banyak keterangan yang unik. Meski ia akhirnya menyimpulkan bahwa Dandan itu memang pengarang. Juga banyak ide dan produktif menulis sejak dulu.
“Banya anak gadis naksir sama dia. Tapi dianya hmm,gitu deh. Cuek bebek. Nggak peduli. Sementara yang naksir tergila-gila karena kemudian tahu kisahny ditulis dalam majalah. Eit jangan salah. Majalah remaja terkenal membuatnya kaya kalau habis terima honor.” Jelas Bu Kus.
Dina semakin penasaran. “Anaknya ganteng nggak?” tanya Dina
Bu Kus nyengir dan tidak langsung menjawab seperti tadi.
“Nggak kan? Biasanya gitu. Kumel kan?”
Wanita gemuk itu cengar cengir. Dan Dina selayaknya seorang reporter cerdas, menggiring dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.
“Biasanya kan gitu. Bi orangnya egois apalagi seniman.... aku saja hampir nggak bisa ngajak ketemu.”
“Oh” ia semakin menampakkan seorang yang salah tingkah .
“Itu sih pinter pinternya aku saja.” Bi Kus menggaruk garuk kepala
“Sayang aku nggak seangkatan. Kalau bareng,pasti aku kritik gayanya itu. Yang sok terkenal.”
“Saya nggak sok terkenal. Itu sebab saya kemarin menolak diwawancarai kan?” sebuah suara menyahut dari belakang Dina.
Gadis itu pucat pasi tidak berani menoleh kebelakang.

Wulan temanku


Saat senja tiba mentari mulai tenggelam saat itulah aku berjalan santai di sekitar desaku hanya sekedar melepas penat setelah beraktivitas di sekolah yang cukup melelahkan. Setelah aku berjalan cukup jauh,aku rasakan perutku sangat lapar mungkin karena tadi belum makan siang. Diseberang jalan terlihat ada pedagang sate keliling,kebetulan pikirku aku sudah sangat lapar. “pak sate lontong,satenya lima tusuk ya” pintaku kepada penjual sate itu. “iya mbak,dibungkus apa dimakan disini?” tanya penjual sate itu  sambil mengambil beberapa tusuk sate untuk dipanggangnya. “dimakan disini saja.” Jawabku. Tak lama setelah itu aku selesai memakan sate itu.
Aku memutuskan untuk pulang kerumah,tak lama aku berjalan aku melewati rumah temanku Wulan,terlihat ada seorang perempuan sedang duduk santai di teras rumah itu. Perutnya buncit seperti ibu hamil aku melihatnya sangat mirip dengan Wulan tapi pikirku tidak mungkin mana mungkin Wulan temanku dulu sewaktu duduk dibangku sekolah dasar itu hamil. Aku sangat ingin menyapanya,tapi aku takut jika aku nanti salah orang. Ah aku lupakan saja,aku kembali berjalan menuju kerumahku.
Tak lama kemudian,terasa dari belakang ada yang mengikutiku dan tiba tiba “put.. apa kabar?” aku sangat kaget ternyata perempuan tadi benar Wulan temanku. “baik, kamu Wulan kan?” jawabku dengan agak gugup. “iya,kamu sudah lupa ya?” tanya Wulan dengan wajahnya yang polos. “tidak,tapi bukannya kamu pindah ke Jakarta?”
Kemudian ia mengajakku duduk di teras rumahnya. “duduk sini,tidak enak ngomong dijalan.” Aku pun duduk disebelahnya,ia meneruskan kembali ceritanya. “iya aku dulu memang di Jakarta,tapi karena ada masalah jadi aku pindah kesini lagi.” Aku penasaran apa sebenarnya masalah yang dialami Wulan. Dan aku bertanya “maaf kalau aku boleh tahu,kamu ada masalah apa?” aku menatap wajah Wulan,raut wajahnya berubah sebelumnya terlihat baik baik saja,tapi setelah aku bertanya raut wajahnya seperti ada yang disembunyikan.
“Ceritanya panjang.” Wulan menundukkan kepalanya,seperti ada masalah yang besar yang ia sembunyikan. Aku terdiam sebentar,menghentikan pembicaraanku dengan Wulan. Dan tiba tiba ia berkata “put..dulu aku memang tinggal di Jakarta,tapi setelah dua tahun aku tinggal disana...” Wulan meneteskan air matanya,dalam hati aku merasa kasihan dengan Wulan,tetapi aku juga penasaran dengan ceritanya dia belum selesai cerita kepadaku. Tak lama kemudian ia melanjutkan ceritanya kembali.
“aku disana berhubungan dengan seorang laki laki yang lebih tua dariku. Dan,kamu bisa tahu sendiri apa dampaknya bagiku.” Wulan tak henti henti meneteskan air matanya,sambil melihat kearah perutnya yang besar itu. Aku sabagai temannya ikut terlarut dalam kesedihan yang Wulan rasakan. Tak kusangka Wulan anak yang pendiam bisa melakukan hal yang tidak semestinya ia lakukan.
“Kenapa kamu bisa berbuat seperti itu?” aku mendekat kearah Wulan sambil memegang pundaknya. “aku tidak tahu,orang tuaku terlalu sibuk mereka tidak pernah memperhatikan aku. Tapi aku sadar ini semua salahku,aku khilaf.” Aku terdiam dan ikut merasakan kesedihan apa yang Wulan ceritakan,orang tuanya bekerja di Jakarta sejak ia masih kecil sekarang ia tinggal bersama neneknya. “lalu,kenapa kamu tinggal disini?” aku  bertanya kembali padanya.
“Aku disuruh orang tuaku pindah disini agar aku tidak salah pergaulan.” Mendengar cerita panjangnya tadi tak terasa hari sudah malam,aku melihat arlojiku menunjukkan pukul tujuh malam. “Wul,aku pamit dulu ya,sudah ,malam.” Aku pamit pulang karena hari sudah malam “oh iya sudah,kapan kapan mampir lagi ya.” Akupun pulang dari rumah Wulan.