Kamis, 11 April 2013

Tiga bersaudara

Dua puluh hari yang lalu ibuku telah meninggalkan kami, tiga bersaudara yang selalu bersama. Sekarang kami tidak punya siapa-siapa. Pemilik lahan telah menyita apa yang tersisa untuk membayar hutang-hutang kami.
Adikku menderita kelaparan sehingga ia harus dilarikan ke rumahsakit, sementara kakakku tidak bisa berjalan karena kedua kakinya melepuh setelah berjalan berkilo-kilometer menyusuri desa menuju kota.

Tidak ada yang tahu bagaimana menebus biaya rumahsakit adikku, atau mengobati kaki kakakku. Aku pun tidak sempurna. Sejak lahir aku buta pada mata kiri. Tidak ada yang mau menerimaku bekerja karena kecacatanku.
Satu-satunya kerabat kami adalah paman kami yang tinggal jauh di desa lain. Untuk menempuhnya bisa memakan waktu berhari-hari, sementara aku tidak memiliki ongkos untuk menumpang kendaraan umum.

Aku pun mengunjungi rumahsakit dimana adikku dirawat. “Gus, aku minta doamu, aku akan ke rumah paman. Mungkin akan lama. Kamu yang sabar ya.”
Rupanya Gusti tidak ridho kakaknya meninggalkannya. Ia berusaha mencegahku agar tidak udah pergi saja. Tapi akhirnya dia melepaskanku.
Kemudian kudatangi kakakku dan meminta hal yang sama. “Aku akan mencoba mendatangi paman. Siapa tahu dia bisa membantu kita.”
Hernawa hanya menatapku, kemudian mengangguk. Aku tahu dia juga tidak rela aku pergi meninggalkannya. Kami selalu bersama sejak kecil. Sudah buruk ketika Gusti harus dirawat dan Hernawa bercokol seperti tikus di gang sempit dan gelap di belakang rumahsakit.  “Pergilah, Dar, jika itu kehendakmu. Aku akan mendoakanmu.”

Dengan berat hati aku melangkah pergi. Matahari menyambutku diantara gedung-gedung. Namun belum sampai setengah kilo, kakiku sudah melepuh dan tidak sanggup lagi berjalan. Aku hendak beristirahat di trotoar ketika sebuah becak motor menyambarku, kejadiannya begitu lekas sehingga aku terlambat menghindar.

“Loh, mas Darwis?” seru penumpang becak yang mencelakakanku itu. Seorang perempuan muda turun dengan wajah kagetnya dan buru-buru membantuku berdiri.
“Hesti?” Kebetulan sekali. Hesti adalah anak pamanku yang rumahnya kutuju.
“Maaf lho mas sampean sampe celaka, jalanannya padat dan supirnya agak ngawur. Mas mau kemana?”
Aku menjawab malu-malu, “Sebetulnya ya mau ke rumahmu. Ibu meninggalkan belum sebulan yang lalu. Dan adikku di rumahsakit.”
“Hes…itu siapa?” tanya seorang pria diatas bangku penumpang becak yang sama.
“Mas Darwis, Pak.”
“Paman!” seruku gembira sambil menyalaminya.

Rupa-rupanya pamanku itu juga sedang sakit dan hendak pergi ke rumahsakit. Tiba-tiba saja perutnya serasa ditusuk-tusuk saat berkebun dan Hesti langsung membawanya menggunakan jasa becak motor.
Setelah lebih sehat, pamanku menanyakan keadaanku dan saudara-saudaraku. Syukurlah ia merasa prihatin dan menawarkan bantuan untuk adikku yang dirawat di rumahsakit yang sama. “Nanti, kalian pulanglah bersama paman. Biar paman tunjukkan apa yang bisa kalian kerjakan di kota. Mugi-mugi bisa membantu asal kalian mau bekerja keras. Untuk sementara tinggallah di rumah kos-kosan paman. Mau kan?”
“Mau sekali, paman. Terimakasih. Terimakasih!” tanpa sadar aku menyalaminya.
Kutemui Gusti di bangsal lain di rumahsakit itu. “Dek, kita masih punya harapan. Alhamdulillah.”
“Doaku terkabul, Kang,” ujarnya tersenyum. “Aku berdoa supaya paman yang menemui kita disini.”
“Ah, kamu ini… Ada-ada saja.”
Gusti memejamkan mata sambil tersenyum, kakinya digoyang-goyangkan santai.
Hernawa minum air dari plastik yang diberikan gratis oleh pemilik warung nasi. Ia memijit-mijit kakinya dengan perlahan. “Kang, kita masih bisa selamat. Tuhan menyelamatkan kita.” Kuceritakan padanya apa yang terjadi.
“Syukurlah. Berarti doaku terkabul. Aku minta supaya kamu tidak perlu pergi. Aku tidak mau kita terpisah-pisah lebih jauh lagi.”
Mataku terasa basah. Aku tidak mengira doa saudara-saudaraku demikian berharga di mata Allah. Sungguhlah Tuhan bekerja dengan cara yang misterius.
Kehidupanku dan saudara-saudaraku mungkin tak akan pernah sama lagi. Tapi satu hal yang pasti, kami akan selalu bersama lagi.




Jumat, 15 Februari 2013

Analisis film Tanah Surga Katanya


Bermula dari sebuah keluarga yang hidup sederhana, film ini mulai membawa penonton larut dalam alurnya. Seorang kakek yang berbagi pengalaman kepada cucunya ketika perang melawan malaysia pada akhir era orde lama. Hidup sederhana tetapi memiliki rasa nasionalisme yang tidak sederhana. Konflik pun selanjutnya muncul ketika seorang anak dari kakek dan ayah dari dua bocah yang masih polos mengajak keluarganya pindah ke negeri yang lebih makmur, yaitu Malaysia. Penolakan sang kakek menjadi awal konflik dalam film ini. Ditambah lagi si anak laki-laki memilih tetap tinggal bersama kakenya ketimbang ikut untuk merasakan hidup sejahtera di negeri seberang.

Pada latar yang berbeda, film ini juga menyadarkan rakyat Indonesia tentang bagaimana pendidikan dan kesehatan di daerah pelosok yang jauh dari pembangunan dan tidak mengenal rupiah sebagai alat tukar. Sekolah yang jauh kata layak. Satu ruang diberi sekat untuk dijadikan dua kelas. Sekolah yang hanya memiliki seorang guru yang “terjebak” untuk mengajar di daerah tersebut. Sekolah yang murid-muridnya hanya hafal lagu “kolam susu”. Walaupun terjebak, sang guru telah jatuh hati untuk tetap mendidik generasi penerus bangsa di perbatasan tersebut. Realitas kesehatan di perbatasan pun ditampilkan dengan apik. Bagaimana akses sangat terbatas ditampilkan dalam film ini. Eksklusi sosial di bidang kesehatan sangat terasa dengan tidak adanya fasilitas kesehatan yang memadai. Dengan konteks yang ditampilkan adalah seorang kakek yang bermasalah dengan jantungnya dan harus dibawa ke rumah sakit.

Koruptor pun mungkin akan malu menonton film ini. Apalagi ketika sekolah yang hampir roboh di perbatasan tersebut kedapatan pejabat yang meninjau untuk memberikan bantuan. Pada awalnya semua berjalan lancar. Si pejabat mau memberikan bantuan untuk sekolah tersebut. Semuanya menjadi terbalik ketika seorang siswa membacakan seutas puisi dengan bait dari lagu “kolam susu” yang ditambahkan beberapa kata yang begitu membuat sang pejabat terhina dan tersinggung.

Klimaks dari film ini adalah mengenai nasionalisme. Begitu banyak bagian dari cerita film ini yang menampakkan nasionalisme di garis terluar perbatasan negeri ini. Pertama, dari konflik dari sang kakek dengan anaknya tentang kehidupan yang sejahtera di negeri seberang dibandingkan dengan negeri sendiri. Kedua, nasionalisme yang ditunjukkan dari alat tukar yang digunakan di daerah perbatasan. Ringgit lebih berharga daripada rupiah. Ketiga, tidak ada satupun warga bahkan kepala dusun sekalipun yang memiliki bendera merah putih. Hanya seorang kakek yang memilikinya dan dirawat dengan baik sejak bendera tersebut tidak lagi dikibarkan setelah masa peperangan dengan malaysia tahun 1965. Keempat, bagaimana para siswa tidak tahu bagaimana lirik dan cara menyanyikan lagu kebangsaan indonesia raya. Mereka menganggap lagu “kolam susu” adalah lagu kebangsaan indonesia. Kelima, bagaimana seorang anak rela menukar kain yang dibelikan untuk kakenya di negeri seberang dengan bendera merah putih yang dijadikan kain pembungkus dagangan di negeri seberang.

Rabu, 16 Januari 2013

Mentari Terakhir



“Resti benci Ayah”
“Plaaaaankkk ………………………
Satu tamparan tepat mendarat di pipi Tari, saat Ia berusaha melindungi Resti. Ini bukan yang pertama kalinya Tari mendapat tamparan dari ayahnya. Tari kembali mengeluarkan air matanya. Dan tak lama cairan merah pun kembali mengalir dari lubang hidungnya. Rasa sakit yang menghampirinya tak akan menjadi penghalang Ia untuk tetap melindungi adiknya. Adik yang telah di titipkan untuk Tari setelah kepergian Ibu tercintanya 4 tahun yang lalu. Dan semenjak itu pula kehidupan Tari dan adiknya berubah 180 derajat.
“Tari… menjauh dari adikmu, akan aku beri pelajaran anak ini”teriak ayahnya pada Tari.
“Tidak… Tari tidak mau ayah menyakiti Resti, cukup Tari yang ayah sakiti… cukup Tari” Ucap Tari yang tedengar pilu menahan tangis dan sakitnya.
“Anak tak tau diri, kamu sama saja dengan adik mu.. HAAAHHHH…” seru ayah dengan jengkelnya dan berjalan menuju kamarnya dan menutup pintunya dengan keras. Seperti belum puas meluapkan semua amarahnya pada Tari dan Resti.
“Resti benci ayah ka.. Resti benci ayah”Resti memeluk Tari dengan erat dan menangis dipelukan Tari, seakan – akan Ia tak ingin melepaskan peluknya pada Tari.
“sudah lah Res, ayah memang seperti itu”
“kaka kenapa sihh, selalu bisa sabar menghadapi ayah. Kaka lihat sendirikan, ayah hanya membela mama

Dila dan mama Dila, bukan kita anak kandungnya. Aku kangen Ibu Ka….??aku kangen ibu..??” Resti kembali mengeluarkan Airmata.
“Apa yang bisa kita lakukan Res, kita hanya bisa berdoa pada suatu saat nanti mata hati ayah terbuka untu melihat semuanya.” Tari pun ikut tersedu mendengar tangis Resti di peluknya. Tari pun kangen dengan ibu. saat - saat seperti ini memang hanya seorang ibu yang dapat menenangkan hati mereka.
Setelah sepeninggal Ibunya, ayah Tari menikah kembali dengan Mama Dila yang kini menjadi ibu tiri mereka. Memang mama Dila tak seperti ibu tiri yang sering kita dengar dengan kekejamnya. Namun lebih tepatnya untuk mama Dila adalah kata tak perduli, Ia hanya peduli dengan ayah Tari dan anak kandungnya saja. Dan Ayah pun sebaliknya, ayah hanya perduli dengan istri barunya. Seakan – akan cinta ayah Tari ikut pergi bersama ibunya.
***

Beberapa hari setelah kejadian itu, pendarahan di hidung Tari tak mau berhenti. Terkadang Tari pun tak menyadari cairan merah itu mengalir dari hidungnya. Namun Tari tak ambil pusing. “mungkin hanya sedikit infeksi, entar juga sembuh” batin Tari saat menghapus caiaran merah itu dari lubang hidungnya.

Hari ini Tari berjanji untuk menunggu Alfin di depan gerbang kampusnya untuk menjemputnya. Alfin adalah sahabat semasa kecil Tari. Alfin memang sangat menyayangi Tari, dan rasa sanyang itu bukan hanya rasa sanyangnya sebagai sahabat namun rasa sayang sebagai orang yang dicintainya. Namun rasa cinta itu Ia pendam karna Ia tidak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin diantara Ia dan Tari. Alfin yang selalu ada di samping Tari. Dan saat Tari berusaha menguatkan diri dari kepergian ibunya. Alfin menjadi saksi sebagian perjalanan hidup Tari.
“ Kita makan dimana, Tar..?”
“Terserah kamu aja Fin, aku oke – oke aja”
“Oke deh, tempat biasa aja ya..”
“oke…”.

Mereka pun menuju tempat makan yang biasa mereka hampiri. Sebuah tempat makan yang sederhana namun tetap bersih dan terlihat indah dimata Tari.
“Pipi kamu kenapa Tar,…??” Alfin mengajukan pertanyaan yang memang sejak tadi ingin Ia tanyakan.
“Resti berantem sama ayah Fin.. aku berusaha melindungi Resti dari pukulan ayah”
“Sungguh keterlaluan ayahmu itu Tar.”
“Ga apa – apa lah Fin, aku sudah biasa seperti ini. Lebih baik aku yang ayah sakiti dari pada Resti, aku sayang Resti Fin, Resti adalah amanat ibu untuk aku. Aku sudah berjanji dengan ibu untuk melindungi Resti apapun yang terjadi”
“iya Tari, aku mengerti. Tapi ayahmu memang sudah sangat keterlaluan. Lama – lama aku laporin juga tu kepolisi”
“Huuuss, gitu – gitukan ayah aku Alfin”
“he… becanda Tar”
Tari pun ikut tersenyum. Saat Tari tersenyum maka saat itu pula kebahagiaan Alfin muncul, kebahagian yang muncul dari Tari untuk Alfin tanpa Tari sadari.
***

Hari – hari berlalu begitu cepat terasa. Tari merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa akhir – akhir ini merasa sangat lemah. Dan terkadang kepalanya terasa sangat sakit dan pendarahan dihidungnya yang kadang – kadang ikut menyertai. Namun Tari mengacuhkan hal tersebut. Tari bukan orang yang suka mengeluh dengan apa yang Ia rasakan. Tari akan selalu tersenyum dengan orang – orang disekitarnya, karna Ia menganggap dengan senyumannya orang akan selalu berpikir kalau Ia selalu bahagia. Dan itu akan menjadi doa baginya. Keteguhan Tari inilah yang membuat Resti yang berada dibangku SMA itu sangat bangga dan sayang dengan kakanya. Resti merasa kakanya adalah sosok wanita yang kuat dan jauh dibandingkan dengan dirinya.
“Dooor….” Seru Resti mengejutkan kakanya saat Ia memasuki tempat tidur Tari.
“Astaga.. Resti, maunya apa sih ngagetin kaka aja”
“mau liat ekpresi kaka aja…He, Lucu juga..”
“Senang ya liat kaka kaget, Resti.. Resti..!!!” Tari pun ikut tersenyum meliat Resti yang tertawa karna Dia. “ Becanda doang ka, ga boleh ya..hehe”.
“iya.. iya..”ada apa Res, tumben kamu ke kamar kaka.
Ga ada apa – apa ka, bĂȘte aja liat mama’Dila tu… yang sok perhatian sama ayah”
“Huuus.., ga boleh gitu.. harusnya kita bersyukur adanya mama Dila. Kalau ga ada mama’Dila, siapa yang bakal ngurusin ayah Res..”
“iya ka, tapi kan dibalik perhatian mama’Dila sama ayah ada maksudnya ka..”
“maksudnya apa Res… pikir yang positif aja..”
“mama’Dila kan Ingin menjauhkan kita sama ayah.. buktinya ayah setelah menikah dengan Dia udah mulai kasar sama kita ka, coba aja ibu masih ada.. huhh.. pasti ibu orang yang pertama melindungi kita”.
“Ibu selalu ada di hati kita Res, ibu selalu melindungi kita, dan ibu selalu mengawasi kita dari sana. Dan mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita, jalan yang mengantaran kita pada kebahagian.”
“Amin” sekali lagi Resti kagum dengan cara berpikir kakanya, yang selalu bisa mengambil sisi kebahagian diantara pahitnya penderitaan.

Tiba – tiba Tari terdiam, Ia merasakan kembali ada cairan yang keluar dari lubang hidungnya. Tari coba menghindar dari pandangan Resti. Dan mencoba berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan cairan itu. Saat Tari mencoba berjalan. Ia merasakan tubuhnya begitu lemah, dan tak lama pandang Tari menghitam. Tari pun terjatuh di depan Resti, sontak Resti kaget meliat kakanya terjatuh tiba – tiba dan pinsan di depannya, Ia bingung harus melakukan apa karna di rumahnya hanya ada Ia berdua, ayah bekerja dan mama Dila tak tau kemana. Resti berteriak minta tolong, berharap ada yang mendengar teriakannya. Tak lama beberapa tetangga pun tiba untuk membantu Resti untuk membawa Tari kerumah sakit.
***

Resti miris meliat kakanya yang terbaring diruang ini. Ruang yang menurut Resti banyak meninggalkan kenangan menyakitkan baginya, terutama saat – saat ibunya dirawat disini. Resti menangis tak hentinya di samping Tari, pikirnya terus saja menerawang ada apa dengan kakanya, dan kenapa kakanya seperti ini. Ia tak ingin berpikir yang buruk untuk kakanya. Karna Ia memang tak mau hal buruk itu menghampiri kakanya.
Tak lama Alfin pun datang setelah mendapat Kabar dari Resti. Resti memeluk Alfin dan terus menagis di bahu Alfin, Ia ikut merasakan apa yang Resti rasakan. Karna Alfin sangat menyayangi Tari. Resti menceritakan apa yang terjadi dengan kakanya, kenapa Tari bisa sampai di tempat ini.
“Resti takut ka terjadi apa – apa dengan ka’Tari” dengan suara yang tersendu Resti mengeluh pada Alfin akan kekuatirannya pada Tari.
“ tak akan terjadi apa – apa denga Tari, Res… tenang lah, Tari wanita yang kuat”
“iya ka”
“apa kata dokter….???”
“entahlah, Dokter belum bisa memastikan ka’Tari sakit apa, masih menunggu hasil darah ka’Tari beberapa hari lagi. Untuk sementara dokter hanya memberi beberapa obat untuk ka’Tari.”
Ayah Tari dan Mama’Dila pun datang setelah Resti memberi kabar pada ayahnya. Diluar pikiran Resti pada ayahnya saat meliat Tari yang terbaring di tempat tidur. Ayahnya mencoba mendekati Tari dan memegang tangan Tari. Ia menatap dalam – dalam paras Tari yang memang sangat mirip dengan allmarhum istrinya yaitu ibu Tari. Seperti kembali kemasa Ia menghadapi peristiwa yang sama saat istrinya terbaring sakit di tempat yang sama, namun dalam hatinya terbesit Ia tak ingin menyaksikan kejadian yang sama di tempat ini.
“ maafkan ayah Tar” kata – kata Ayah membuat Resti tak percaya dengan apa yang Ia dengar, seakan – akan doa Tari datang menghampiri Tari saat Ia terbaring tak sadarkan diri. “suatu saat nanti mata hati akan ayah terbuka untuk melihat semuanya.”
***

“Alfin..”
Suara yang terdengar sangat lemah membuat Alfin terbangun dari tidurnya. Menyadari suara itu berasal dari Tari, Alfin mendekat dan menghampiri Tari. Setitik cerah di mata Alfin saat melihat Tari telah sadarkan diri setelah 2 hari Ia terbaring.
“Alfin…”
“ya Tari..”
“Bawa aku pergi dari tempat ini…”
Ucapan Tari membuat Alfin heran. Ada sesuatu yang terasa hilang dari Tari, seperti ini bukan sosok Mentari yang Ia kenal.
“kamu masih sakit Tar.. Istirahatlah dulu”
“aku ingin jalan – jalan Fin” suara Tari yang terdengar sangat lemah membuat Afin tak mampu untuk menolak permintaannya.
“Baiklah…. Kita keliling Rumah sakit ini aja ya.. di taman belakang ada taman yang Indah tar..”Tari hanya mengangguk mengiyakan perkataan Alfin.
Alfin dan Tari berjalan menuju taman belakang rumah sakit itu, sesampainya disana mereka pun duduk di sebuah kursi.
***

Tak jauh dari tempat yang berbeda, tepatnya diruang dokter yang merawat Tari. Resti dan ayahnya duduk dengan rasa yang tak menentu untuk mendengar apa yang akan di katakan sang dokter tentang hasil tes darah Tari.

Hembusan nafas Dokter terasa berat untuk mengawali membicaraannya, sebagai Dokter sudah menjadi hal biasa baginya bila harus mengatakan hal yang pasti tak disukai pasiennya. Tapi itu lah pekerjaan yang harus Ia lakukan. Melakukan yang terbaik terbaik untuk pasiennya walau hasilnya kadang tak seindah dengan apa yang Ia bayangkan.
“ Tari mengidap penyakit Leukemia stadium akhir, kemungkinan tipis untuk Ia bertahan”
Seakan tak mampu menahan tangis yang tiba – tiba datang dan meruap, tangis Resti pecah di peluk ayahnya yang akhir – akhir ini ayanhnya menunjukkan perubahan dengan Resti dan Tari. Ayah Resti tersentak tak mampu untuk berkata apa – apa, anaknya Tari mengidap penyakit leukemia atau yang sering dikenal dengan kanker darah. Dalam hatinya berkata, mengapa Ia baru menyadari sekarang kalau Tari mengidap penyakit itu. “Tari tak pantas untuk mendapat semua ini. Kenapa harus tari ya Allah.” Batin ayahnya yang terasa ikut menangis.
***
Tak lama telphon Alfin berdering menandakan panggilan masuk. Dari Resti. Tak lama setelah Alfin berbicara dengan Resti yang terus saja menagis. Telpon yang di genggam Alfin tiba – tiba terjatuh, sepertinya kabar yang disampaikan Resti membuat Alfin tersentak dan tak tahu harus berpikir apa. Sedangkan wanita yang ada di sampingnya terus saja berbicara dengan lembutnya.
“Alfin…., aku ingin tidur… aku lelah fin.. aku ingin memejamkan mata ini.. “ ucap Tari dengan lembut yang terdengar sangat lemah. Yang sejak tadi masih bersandar pada bahu Alfin. Tanpa Tari sadari Ia terus mengeluarkan cairan merah dari hidugnya. Dan di sampingnya, Air mata Alfin terus terjatuh.
Tiba – tiba suasana terasa berubah. Saat menyadari apa yang terjadi. Wanita yang berada di sampingnya terasa begitu sangat melemah dan genggaman Tari pun terlepas dari tanga Alfin.

Senin, 17 Desember 2012

Perjalanan Ibu untukku


Walau berliku jalan, kau harus melakukan perjalanan itu
banyak batu yang curam dan tajam
tapi itu tidak membuat langkahmu berhenti untuk sesuap nasi bagi anakmu

setiap nada doa-doamu, namaku terucap lembut
untuk keamanan kemana pun aku pergi besok

tampaknya terlalu lelah untuk bertarung di sore dan malam
tapi kadang-kadang aku masih punya hati untuk menyakitimu ibuku sayang
Ibu, aku akan selalu denganmu
dengan untaian air mata, ku ingin memberikan yang terbaik untukmu

Ibu, kadang-kadang senyummu di balik rasa sakit yang menghantui dengan tidak berperasaan.
Ibu, aku ingin menjadi seperti anak kecil. menangis di pangkuanmu sampai aku tertidur menunggu hari berikutnya.