“Resti
benci Ayah”
“Plaaaaankkk ………………………
Satu tamparan tepat mendarat di pipi Tari, saat Ia
berusaha melindungi Resti. Ini bukan yang pertama kalinya Tari mendapat
tamparan dari ayahnya. Tari kembali mengeluarkan air matanya. Dan tak lama
cairan merah pun kembali mengalir dari lubang hidungnya. Rasa sakit yang
menghampirinya tak akan menjadi penghalang
Ia untuk tetap melindungi adiknya. Adik yang telah di titipkan untuk Tari
setelah kepergian Ibu tercintanya 4 tahun yang lalu. Dan semenjak itu pula
kehidupan Tari dan adiknya berubah 180 derajat.
“Tari… menjauh dari adikmu, akan aku beri pelajaran
anak ini”teriak ayahnya pada Tari.
“Tidak… Tari tidak mau ayah menyakiti Resti, cukup
Tari yang ayah sakiti… cukup Tari” Ucap Tari yang tedengar pilu menahan tangis
dan sakitnya.
“Anak tak tau diri, kamu sama saja dengan adik mu..
HAAAHHHH…” seru ayah dengan jengkelnya dan berjalan menuju kamarnya dan menutup
pintunya dengan keras. Seperti belum puas meluapkan semua amarahnya pada Tari
dan Resti.
“Resti benci ayah ka.. Resti benci ayah”Resti
memeluk Tari dengan erat dan menangis dipelukan Tari, seakan – akan Ia tak
ingin melepaskan peluknya pada Tari.
“sudah lah Res, ayah memang seperti itu”
“kaka kenapa sihh, selalu bisa sabar menghadapi
ayah. Kaka lihat sendirikan, ayah hanya membela mama
Dila dan mama Dila, bukan kita anak kandungnya. Aku
kangen Ibu Ka….??aku kangen ibu..??” Resti kembali mengeluarkan Airmata.
“Apa yang bisa kita lakukan Res, kita hanya bisa
berdoa pada suatu saat nanti mata hati ayah terbuka untu melihat semuanya.”
Tari pun ikut tersedu mendengar tangis Resti di peluknya. Tari pun kangen
dengan ibu. saat - saat seperti ini memang hanya seorang ibu yang dapat
menenangkan hati mereka.
Setelah sepeninggal Ibunya, ayah Tari menikah
kembali dengan Mama Dila yang kini menjadi ibu tiri mereka. Memang mama Dila
tak seperti ibu tiri yang sering kita dengar dengan kekejamnya. Namun lebih
tepatnya untuk mama Dila adalah kata tak perduli, Ia hanya peduli dengan ayah
Tari dan anak kandungnya saja. Dan Ayah pun sebaliknya, ayah hanya perduli
dengan istri barunya. Seakan – akan cinta ayah Tari ikut pergi bersama ibunya.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, pendarahan di
hidung Tari tak mau berhenti. Terkadang Tari pun tak menyadari cairan merah itu
mengalir dari hidungnya. Namun Tari tak ambil pusing. “mungkin hanya sedikit
infeksi, entar juga sembuh” batin Tari saat menghapus caiaran merah itu dari
lubang hidungnya.
Hari ini Tari berjanji untuk menunggu Alfin di
depan gerbang kampusnya untuk menjemputnya. Alfin adalah sahabat semasa kecil
Tari. Alfin memang sangat menyayangi Tari, dan rasa sanyang itu bukan hanya
rasa sanyangnya sebagai sahabat namun rasa sayang sebagai orang yang
dicintainya. Namun rasa cinta itu Ia pendam karna Ia tidak ingin merusak
persahabatan yang telah terjalin diantara Ia dan Tari. Alfin yang selalu ada di
samping Tari. Dan saat Tari berusaha menguatkan diri dari kepergian ibunya.
Alfin menjadi saksi sebagian perjalanan hidup Tari.
“ Kita makan dimana, Tar..?”
“Terserah kamu aja Fin, aku oke – oke aja”
“Oke deh, tempat biasa aja ya..”
“oke…”.
Mereka pun menuju tempat makan yang biasa mereka
hampiri. Sebuah tempat makan yang sederhana namun tetap bersih dan terlihat
indah dimata Tari.
“Pipi kamu kenapa Tar,…??” Alfin mengajukan
pertanyaan yang memang sejak tadi ingin Ia tanyakan.
“Resti berantem sama ayah Fin.. aku berusaha
melindungi Resti dari pukulan ayah”
“Sungguh keterlaluan ayahmu itu Tar.”
“Ga apa – apa lah Fin, aku sudah biasa seperti ini.
Lebih baik aku yang ayah sakiti dari pada Resti, aku sayang Resti Fin, Resti
adalah amanat ibu untuk aku. Aku sudah berjanji dengan ibu untuk melindungi
Resti apapun yang terjadi”
“iya Tari, aku mengerti. Tapi ayahmu memang sudah
sangat keterlaluan. Lama – lama aku laporin juga tu kepolisi”
“Huuuss, gitu – gitukan ayah aku Alfin”
“he… becanda Tar”
Tari pun ikut tersenyum. Saat Tari tersenyum maka
saat itu pula kebahagiaan Alfin muncul, kebahagian yang muncul dari Tari untuk
Alfin tanpa Tari sadari.
***
Hari – hari berlalu begitu cepat terasa. Tari
merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa akhir – akhir ini merasa sangat
lemah. Dan terkadang kepalanya terasa sangat sakit dan pendarahan dihidungnya
yang kadang – kadang ikut menyertai. Namun Tari mengacuhkan hal tersebut. Tari
bukan orang yang suka mengeluh dengan apa yang Ia rasakan. Tari akan selalu
tersenyum dengan orang – orang disekitarnya, karna Ia menganggap dengan
senyumannya orang akan selalu berpikir kalau Ia selalu bahagia. Dan itu akan
menjadi doa baginya. Keteguhan Tari inilah yang membuat Resti yang berada
dibangku SMA itu sangat bangga dan sayang dengan kakanya. Resti merasa kakanya
adalah sosok wanita yang kuat dan jauh dibandingkan dengan dirinya.
“Dooor….” Seru Resti mengejutkan kakanya saat Ia
memasuki tempat tidur Tari.
“Astaga.. Resti, maunya apa sih ngagetin kaka aja”
“mau liat ekpresi kaka aja…He, Lucu juga..”
“Senang ya liat kaka kaget, Resti.. Resti..!!!”
Tari pun ikut tersenyum meliat Resti yang tertawa karna Dia. “ Becanda doang
ka, ga boleh ya..hehe”.
“iya.. iya..”ada apa Res, tumben kamu ke kamar
kaka.
Ga ada apa – apa ka, bête aja liat mama’Dila tu…
yang sok perhatian sama ayah”
“Huuus.., ga boleh gitu.. harusnya kita bersyukur
adanya mama Dila. Kalau ga ada mama’Dila, siapa yang bakal ngurusin ayah Res..”
“iya ka, tapi kan dibalik perhatian mama’Dila sama
ayah ada maksudnya ka..”
“maksudnya apa Res… pikir yang positif aja..”
“mama’Dila kan Ingin menjauhkan kita sama ayah..
buktinya ayah setelah menikah dengan Dia udah mulai kasar sama kita ka, coba
aja ibu masih ada.. huhh.. pasti ibu orang yang pertama melindungi kita”.
“Ibu selalu ada di hati kita Res, ibu selalu
melindungi kita, dan ibu selalu mengawasi kita dari sana. Dan mungkin ini jalan
yang terbaik untuk kita, jalan yang mengantaran kita pada kebahagian.”
“Amin” sekali lagi Resti kagum dengan cara berpikir
kakanya, yang selalu bisa mengambil sisi kebahagian diantara pahitnya
penderitaan.
Tiba – tiba Tari terdiam, Ia merasakan kembali ada
cairan yang keluar dari lubang hidungnya. Tari coba menghindar dari pandangan
Resti. Dan mencoba berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan cairan itu.
Saat Tari mencoba berjalan. Ia merasakan tubuhnya begitu lemah, dan tak lama
pandang Tari menghitam. Tari pun terjatuh di depan Resti, sontak Resti kaget
meliat kakanya terjatuh tiba – tiba dan pinsan di depannya, Ia bingung harus
melakukan apa karna di rumahnya hanya ada Ia berdua, ayah bekerja dan mama Dila
tak tau kemana. Resti berteriak minta tolong, berharap ada yang mendengar
teriakannya. Tak lama beberapa tetangga pun tiba untuk membantu Resti untuk
membawa Tari kerumah sakit.
***
Resti miris meliat kakanya yang terbaring diruang
ini. Ruang yang menurut Resti banyak meninggalkan kenangan menyakitkan baginya,
terutama saat – saat ibunya dirawat disini. Resti menangis tak hentinya di
samping Tari, pikirnya terus saja menerawang ada apa dengan kakanya, dan kenapa
kakanya seperti ini. Ia tak ingin berpikir yang buruk untuk kakanya. Karna Ia
memang tak mau hal buruk itu menghampiri kakanya.
Tak lama Alfin pun datang setelah mendapat Kabar
dari Resti. Resti memeluk Alfin dan terus menagis di bahu Alfin, Ia ikut
merasakan apa yang Resti rasakan. Karna Alfin sangat menyayangi Tari. Resti
menceritakan apa yang terjadi dengan kakanya, kenapa Tari bisa sampai di tempat
ini.
“Resti takut ka terjadi apa – apa dengan ka’Tari”
dengan suara yang tersendu Resti mengeluh pada Alfin akan kekuatirannya pada
Tari.
“ tak akan terjadi apa – apa denga Tari, Res…
tenang lah, Tari wanita yang kuat”
“iya ka”
“apa kata dokter….???”
“entahlah, Dokter belum bisa memastikan ka’Tari
sakit apa, masih menunggu hasil darah ka’Tari beberapa hari lagi. Untuk
sementara dokter hanya memberi beberapa obat untuk ka’Tari.”
Ayah Tari dan Mama’Dila pun datang setelah Resti
memberi kabar pada ayahnya. Diluar pikiran Resti pada ayahnya saat meliat Tari
yang terbaring di tempat tidur. Ayahnya mencoba mendekati Tari dan memegang
tangan Tari. Ia menatap dalam – dalam paras Tari yang memang sangat mirip
dengan allmarhum istrinya yaitu ibu Tari. Seperti kembali kemasa Ia menghadapi
peristiwa yang sama saat istrinya terbaring sakit di tempat yang sama, namun
dalam hatinya terbesit Ia tak ingin menyaksikan kejadian yang sama di tempat
ini.
“ maafkan ayah Tar” kata – kata Ayah membuat Resti
tak percaya dengan apa yang Ia dengar, seakan – akan doa Tari datang
menghampiri Tari saat Ia terbaring tak sadarkan diri. “suatu saat nanti mata
hati akan ayah terbuka untuk melihat semuanya.”
***
“Alfin..”
Suara yang terdengar sangat lemah membuat Alfin
terbangun dari tidurnya. Menyadari suara itu berasal dari Tari, Alfin mendekat
dan menghampiri Tari. Setitik cerah di mata Alfin saat melihat Tari telah
sadarkan diri setelah 2 hari Ia terbaring.
“Alfin…”
“ya Tari..”
“Bawa aku pergi dari tempat ini…”
Ucapan Tari membuat Alfin heran. Ada sesuatu yang
terasa hilang dari Tari, seperti ini bukan sosok Mentari yang Ia kenal.
“kamu masih sakit Tar.. Istirahatlah dulu”
“aku ingin jalan – jalan Fin” suara Tari yang
terdengar sangat lemah membuat Afin tak mampu untuk menolak permintaannya.
“Baiklah…. Kita keliling Rumah sakit ini aja ya..
di taman belakang ada taman yang Indah tar..”Tari hanya mengangguk mengiyakan
perkataan Alfin.
Alfin dan Tari berjalan menuju taman belakang rumah
sakit itu, sesampainya disana mereka pun duduk di sebuah kursi.
***
Tak jauh dari tempat yang berbeda, tepatnya diruang
dokter yang merawat Tari. Resti dan ayahnya duduk dengan rasa yang tak menentu
untuk mendengar apa yang akan di katakan sang dokter tentang hasil tes darah
Tari.
Hembusan nafas Dokter terasa berat untuk mengawali
membicaraannya, sebagai Dokter sudah menjadi hal biasa baginya bila harus
mengatakan hal yang pasti tak disukai pasiennya. Tapi itu lah pekerjaan yang
harus Ia lakukan. Melakukan yang terbaik terbaik untuk pasiennya walau hasilnya
kadang tak seindah dengan apa yang Ia bayangkan.
“ Tari mengidap penyakit Leukemia stadium akhir,
kemungkinan tipis untuk Ia bertahan”
Seakan tak mampu menahan tangis yang tiba – tiba
datang dan meruap, tangis Resti pecah di peluk ayahnya yang akhir – akhir ini
ayanhnya menunjukkan perubahan dengan Resti dan Tari. Ayah Resti tersentak tak
mampu untuk berkata apa – apa, anaknya Tari mengidap penyakit leukemia atau yang
sering dikenal dengan kanker darah. Dalam hatinya berkata, mengapa Ia baru
menyadari sekarang kalau Tari mengidap penyakit itu. “Tari tak pantas untuk
mendapat semua ini. Kenapa harus tari ya Allah.” Batin ayahnya yang terasa ikut
menangis.
***
Tak lama telphon Alfin berdering menandakan
panggilan masuk. Dari Resti. Tak lama setelah Alfin berbicara dengan Resti yang
terus saja menagis. Telpon yang di genggam Alfin tiba – tiba terjatuh,
sepertinya kabar yang disampaikan Resti membuat Alfin tersentak dan tak tahu
harus berpikir apa. Sedangkan wanita yang ada di sampingnya terus saja berbicara
dengan lembutnya.
“Alfin…., aku ingin tidur… aku lelah fin.. aku
ingin memejamkan mata ini.. “ ucap Tari dengan lembut yang terdengar sangat
lemah. Yang sejak tadi masih bersandar pada bahu Alfin. Tanpa Tari sadari Ia
terus mengeluarkan cairan merah dari hidugnya. Dan di sampingnya, Air mata
Alfin terus terjatuh.
Tiba – tiba suasana terasa berubah. Saat menyadari
apa yang terjadi. Wanita yang berada di sampingnya terasa begitu sangat melemah
dan genggaman Tari pun terlepas dari tanga Alfin.