Tak banyak yang
bisa dibanggakan menjadi redaktur sebuah majalah sekola. Kacuali dikejar kejar
deadline,disela sela kesibukan belajar. Juga tak sebagaiman seorang reporter
yang harus bangga bisa mewawancarai narasumber terkenal. Karena biasanya sumber
yang dikejardi sekitar sekolah. Jarang menulis laporan dengan narasumber yang
bisa dibanggakan. “tapi dari situ,kamu banyak belajar bergaul. Kamu nggak
kuper.” Kata Dito. Kakaknya yang mantan pengelola majalah disekolah.
“Iya sih,”sahut
Dina.
“Nah, jadi tidak
perlu ngeluh.”
Dina jadi tersenyum
sendiri. Mungkin ia ikut ketularan kakaknya yang sekarang sudah kuliah di
sos-pol. Ia melihat betapa asyiknya Dito dulu suka menulis dan sesekali bertemu
dengan narasumber di luar sekolah. Orang orang cukup terkenal dan pintar
pintar. Ah, itulah bedanya sekolah Dito dulu dengan sekolah Dina sekarang. Disekolahnya,tak
banyak kesempatan untuk mengembangkan majalah. Selain dana terbatas pengelolanya
juga tak terlalu peduli. Asal terbit dan tepat waktu saja sudah bagus.
Sebulan menjelang
ulang tahun majalah sekolah,Dina mengusulkan beberapa liputan. Semua usulnya
disetujui,termasuk unruk mewawancarai senior-senior atau mantan pengelola
majalah.
“Idemu boleh juga.
Kamu kejar mantan pengelola majalah sekolahmu dan mintai pendapatnya.” Komentar
Dito ketika Dina minta masukan. “Ok bos!”
Dina benar benar
bekerja keras. Bahkan ia menenteng sendiri kamera,untuk memotretnya. Semua data
dan lokasi calon narasumbernya sudah diperoleh dari kantor TU. “Mau reuni Din?”
kata Pak TU. Dina hanya tersenyum. Kerja kerasnya cukup memuaskan. Ia mendapat
banyak masukan dari mantan seniornya.
“Kamu harus
menemui Dandan. Dia pengelola majalah sekolah yang paling elit.” Usul Egy yang
kuliah di psikologi. Usulan itu sama seperti yang lain. Itu yang membuat Dina
mengorek ngorek dokumentasi majalah sekolah empat tahun lalu. Di situlah ia
menemukan tulisan tulisan Dandan. Ia harus mengakui laporannya lengkap. Bahasanya
bagus dan indah.
“Ia memang seorang
pengarang.” Gumamnya ketika tanpa sengaja menemukan tulisan seniornya itu
disebuah majalah wanita. “Kamu mau mewawancaraiku?” tanya Dandan ketika
dihubungi lewat telepon. “Ya seperti yang aku jelaskan tadi.” Jawab Dina.
“Salah ah.”
“Salahnya?”
“Tidak benar.”
“Tidak benarnya?”
“hmmm...masih
banyak yang lain kan?”
“Sudah.”
“Kalau sudah cukup,
ya sudah.”
“Tinggal kakak
seorang.” Lengang Dina mendengar desah gelisah orang yang ditelepon. “Kalau
tanpa aku,kan nggak apa apa.” Ia masih menawar.
“Justru kuncinya
di kak Dandan. Kak Egy,kak Rony,Kak Mayang. Semuanya mengusulkan agar aku
menghubungi kakak.”
“Ah,mereka..”
“Ya,semua orang
yang mengenal kak Dandan menyarankan aku untuk menghubungi kakak.” Kegigihan Dina
membuahkan hasil juga.
“Kita ketemu
disekolah saja. Di kantin.”
Di hari yang
dijanjikan, Dina datang lebih awal. Guru pelajarannya sedang tidak ada. Melihat
Dina, Bi Kus penjaga kantin. Mengerutkan kening.
“Mau ketemu
Dandan,” jelasnya menebak kebingungan itu.
“Dandan...Dandan
yang mana Din?” tanyanya.
“Yang katanya dulu
rambutnya paling gondrong.”
“oh.”
“Bi Kus ingat?”
Wanita berleher
hampir rata dengan dagu itu tertawa. Dan matanya semakin menyipit.
“Siapa sih yang
nggak kenal si seniman itu. Dialah satu-satunya anak yang berani ngutang banya
ke bibi. Tapi bibi juga percaya.”
“Ha!”
“Habis bagaimana? Anaknya
memang begitu. Suka cuek. Tapi kalau ada baru terma honor ia bayar utang,dan sisanya
untuk makan temen-temen. Sampai habis. Dan esoknya ya ngutang lagi.”
Dina makin
menyimak siapa Dandan itu. Lewat Bi Kus banyak keterangan yang unik. Meski ia
akhirnya menyimpulkan bahwa Dandan itu memang pengarang. Juga banyak ide dan
produktif menulis sejak dulu.
“Banya anak gadis
naksir sama dia. Tapi dianya hmm,gitu deh. Cuek bebek. Nggak peduli. Sementara yang
naksir tergila-gila karena kemudian tahu kisahny ditulis dalam majalah. Eit jangan
salah. Majalah remaja terkenal membuatnya kaya kalau habis terima honor.” Jelas
Bu Kus.
Dina semakin
penasaran. “Anaknya ganteng nggak?” tanya Dina
Bu Kus nyengir dan
tidak langsung menjawab seperti tadi.
“Nggak kan? Biasanya
gitu. Kumel kan?”
Wanita gemuk itu
cengar cengir. Dan Dina selayaknya seorang reporter cerdas, menggiring dengan
pertanyaan-pertanyaan tajam.
“Biasanya kan
gitu. Bi orangnya egois apalagi seniman.... aku saja hampir nggak bisa ngajak
ketemu.”
“Oh” ia semakin
menampakkan seorang yang salah tingkah .
“Itu sih pinter
pinternya aku saja.” Bi Kus menggaruk garuk kepala
“Sayang aku nggak
seangkatan. Kalau bareng,pasti aku kritik gayanya itu. Yang sok terkenal.”
“Saya nggak sok
terkenal. Itu sebab saya kemarin menolak diwawancarai kan?” sebuah suara
menyahut dari belakang Dina.
Gadis itu pucat
pasi tidak berani menoleh kebelakang.
thanks ya infonya !!!
BalasHapuswww.bisnistiket.co.id