Kamis, 20 September 2012

Sang Seniman


Tak banyak yang bisa dibanggakan menjadi redaktur sebuah majalah sekola. Kacuali dikejar kejar deadline,disela sela kesibukan belajar. Juga tak sebagaiman seorang reporter yang harus bangga bisa mewawancarai narasumber terkenal. Karena biasanya sumber yang dikejardi sekitar sekolah. Jarang menulis laporan dengan narasumber yang bisa dibanggakan. “tapi dari situ,kamu banyak belajar bergaul. Kamu nggak kuper.” Kata Dito. Kakaknya yang mantan pengelola majalah disekolah.
“Iya sih,”sahut Dina.
“Nah, jadi tidak perlu ngeluh.”
Dina jadi tersenyum sendiri. Mungkin ia ikut ketularan kakaknya yang sekarang sudah kuliah di sos-pol. Ia melihat betapa asyiknya Dito dulu suka menulis dan sesekali bertemu dengan narasumber di luar sekolah. Orang orang cukup terkenal dan pintar pintar. Ah, itulah bedanya sekolah Dito dulu dengan sekolah Dina sekarang. Disekolahnya,tak banyak kesempatan untuk mengembangkan majalah. Selain dana terbatas pengelolanya juga tak terlalu peduli. Asal terbit dan tepat waktu saja sudah bagus.
Sebulan menjelang ulang tahun majalah sekolah,Dina mengusulkan beberapa liputan. Semua usulnya disetujui,termasuk unruk mewawancarai senior-senior atau mantan pengelola majalah.
“Idemu boleh juga. Kamu kejar mantan pengelola majalah sekolahmu dan mintai pendapatnya.” Komentar Dito ketika Dina minta masukan. “Ok bos!”
Dina benar benar bekerja keras. Bahkan ia menenteng sendiri kamera,untuk memotretnya. Semua data dan lokasi calon narasumbernya sudah diperoleh dari kantor TU. “Mau reuni Din?” kata Pak TU. Dina hanya tersenyum. Kerja kerasnya cukup memuaskan. Ia mendapat banyak masukan dari mantan seniornya.
“Kamu harus menemui Dandan. Dia pengelola majalah sekolah yang paling elit.” Usul Egy yang kuliah di psikologi. Usulan itu sama seperti yang lain. Itu yang membuat Dina mengorek ngorek dokumentasi majalah sekolah empat tahun lalu. Di situlah ia menemukan tulisan tulisan Dandan. Ia harus mengakui laporannya lengkap. Bahasanya bagus dan indah.
“Ia memang seorang pengarang.” Gumamnya ketika tanpa sengaja menemukan tulisan seniornya itu disebuah majalah wanita. “Kamu mau mewawancaraiku?” tanya Dandan ketika dihubungi lewat telepon. “Ya seperti yang aku jelaskan tadi.” Jawab Dina.
“Salah ah.”
“Salahnya?”
“Tidak benar.”
“Tidak benarnya?”
“hmmm...masih banyak yang lain kan?”
“Sudah.”
“Kalau sudah cukup, ya sudah.”
“Tinggal kakak seorang.” Lengang Dina mendengar desah gelisah orang yang ditelepon. “Kalau tanpa aku,kan nggak apa apa.” Ia masih menawar.
“Justru kuncinya di kak Dandan. Kak Egy,kak Rony,Kak Mayang. Semuanya mengusulkan agar aku menghubungi kakak.”
“Ah,mereka..”
“Ya,semua orang yang mengenal kak Dandan menyarankan aku untuk menghubungi kakak.” Kegigihan Dina membuahkan hasil juga.
“Kita ketemu disekolah saja. Di kantin.”
Di hari yang dijanjikan, Dina datang lebih awal. Guru pelajarannya sedang tidak ada. Melihat Dina, Bi Kus penjaga kantin. Mengerutkan kening.
“Mau ketemu Dandan,” jelasnya menebak kebingungan itu.
“Dandan...Dandan yang mana Din?” tanyanya.
“Yang katanya dulu rambutnya paling gondrong.”
“oh.”
“Bi Kus ingat?”
Wanita berleher hampir rata dengan dagu itu tertawa. Dan matanya semakin menyipit.
“Siapa sih yang nggak kenal si seniman itu. Dialah satu-satunya anak yang berani ngutang banya ke bibi. Tapi bibi juga percaya.”
“Ha!”
“Habis bagaimana? Anaknya memang begitu. Suka cuek. Tapi kalau ada baru terma honor ia bayar utang,dan sisanya untuk makan temen-temen. Sampai habis. Dan esoknya ya ngutang lagi.”
Dina makin menyimak siapa Dandan itu. Lewat Bi Kus banyak keterangan yang unik. Meski ia akhirnya menyimpulkan bahwa Dandan itu memang pengarang. Juga banyak ide dan produktif menulis sejak dulu.
“Banya anak gadis naksir sama dia. Tapi dianya hmm,gitu deh. Cuek bebek. Nggak peduli. Sementara yang naksir tergila-gila karena kemudian tahu kisahny ditulis dalam majalah. Eit jangan salah. Majalah remaja terkenal membuatnya kaya kalau habis terima honor.” Jelas Bu Kus.
Dina semakin penasaran. “Anaknya ganteng nggak?” tanya Dina
Bu Kus nyengir dan tidak langsung menjawab seperti tadi.
“Nggak kan? Biasanya gitu. Kumel kan?”
Wanita gemuk itu cengar cengir. Dan Dina selayaknya seorang reporter cerdas, menggiring dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.
“Biasanya kan gitu. Bi orangnya egois apalagi seniman.... aku saja hampir nggak bisa ngajak ketemu.”
“Oh” ia semakin menampakkan seorang yang salah tingkah .
“Itu sih pinter pinternya aku saja.” Bi Kus menggaruk garuk kepala
“Sayang aku nggak seangkatan. Kalau bareng,pasti aku kritik gayanya itu. Yang sok terkenal.”
“Saya nggak sok terkenal. Itu sebab saya kemarin menolak diwawancarai kan?” sebuah suara menyahut dari belakang Dina.
Gadis itu pucat pasi tidak berani menoleh kebelakang.

1 komentar: